Kamis, 14 November 2013


Pajak Ayam

Hampir semua warga sudah terlihat memadati tiap sisi lapangan becek milik kampung Sidoyang. Lapangan milik kampung Sidoyang adalah fasilitas paling mewah sebagai sarana pertemuan antara warga dan pejabat desa. Para warga menanti perangkat desa baru yang sejatinya akan menyampaikan pidato di depan warga Sidoyang. Setelah menunggu kurang lebih dua jam, akhirnya mobil mewah berwarna hitam mengkilap tiba di samping lapangan dengan dua kali bunyi klakson yang sungguh mengagetkan penjual es dawet yang sedang dibeli Kartam tepatnya berada di sisi jalan becek akibat hujan semalam, juga mengagetkan beberapa orang yang sedang kongkalikong.
            “Begini wargaku, Aku ingin memberitahukan tentang pentingnya membayar pajak, sebagai warga negara yang baik kita kan harus bayar pajak toh nanti juga uang dari hasil pajak itu untuk membangun jembatan yang rusak, memperbaiki sekolahan yang rusak, dan semua yang rusak-rusak” dengan nada sedikit tegas, perangkat desa itu mulai berpidato layaknya politikus elite di podium gedung dewan perwakilan. Kemudian menggerak-gerakkan tangannya dan menaikkan alis meniru gaya presenter infotaiment di televisi. “Pajak ayam dilakukan setiap hari Minggu sore.”
            “Pak, saya hanya mempunyai tiga ekor ayam apakah saya harus membayar pajak?” tanya salah seorang warga menggunakan bahasa Indonesia dengan logat bahasa setempat yang masih sangat kental.
            “Tentu saja! Begini ya, pajak untuk seekor ayam seharga lima ribu” timpal si perangkat desa dengan begitu meyakinkan dan mengejutkan semua warga.
            Lima belas menit lamanya perangkat desa itu menyampaikan maksudnya, tidak sebanding dengan waktu yang diluangkan warga sekitar dua setengah jam yang lalu akibat keterlambatan perangkat desa. Memang sudah menjadi budaya yang mendarah daging di antara oknum pejabat.
            “Tadi pidato tentang apa le?” tanya Pakde Darpo kepada Kartam.
            “Ah itu tadi tentang pajak ayam” jawab Kartam dengan sedikit malas. “Pajak untuk membangun jembatan yang rusak, memperbaiki sekolahan yang rusak, dan semua yang rusak-rusak” Kartam persis menirukan kata-kata dan gerak-gerik perangkat desa tadi yang menurutnya tidak jauh lebih bagus daripada pidato penjual obat di pasar Sidoyang. “Apa tidak tahu ya kalau kita ini orang miskin untuk cari makan aja susah apalagi harus membayar pajak ayam yang mahal itu, sinting!”
            “Hust! Jangan sembarangan. Ya tidak apa-apa to le, itu kan untuk kepentingan bersama bukan kepentingan pribadi toh nanti kan uang kita untuk kita nikmati bersama” jawab Pak Darpo santai.
            “Kalau itu untuk kepentingan pribadi bagaimana?”
            “Masa jembatan mau dipakai sendiri.”
            “Bukan itu, tapi belum sampai memperbaiki jembatan uang sudah diembat”
            “Ah tidak mungkin muka berwibawa seperti Beliau mau melakukan korupsi, jangan asal ngomong kau, Tam.” Tegas pakdeku. “Di negeri kita salah ngomong sedikit saja bisa masuk penjara!”  tambah Pakde Darpo kemudian meminum seteguk kopi hitam. “Apa kau tak tahu keluarga pak Dirham itu hah?”
            “Tidak.”
            “Dia mempunyai pendidikan yang tinggi, berasal dari keluarga tercukupi, istrinya sering mengisi pengajian ke masjid sana ke masjid situ, orangnya ramah dan yang jelas mereka semua berwibawa sangat baik.”
            Besok adalah hari Minggu sekaligus minggu pertama pembayaran pajak ayam. Kartam berpikir sejenak sambil sesekali menghitung jumlah ayam di kandang kalau-kalau jumlahnya melebihi sepuluh ekor mengingat ia hanya memiliki beberapa rupiah saja.
            Keesokan harinya semua warga yang memiliki ayam berkumpul di rumah Pak RT untuk menyetorkan pajak. Bermacam-macam, menurut berita yang tersiar. Ada yang hanya datang karena tidak punya uang dan mau diperlakukan apa saja asalkan satu-satunya ayamnya tidak disita. Ada yang hanya membayar lima ribu, sepuluh ribu, nekat tidak membayar sampai nekat pindah ke kampung lain untuk menghindari pajak ayam kampung Sidoyang.
            Berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga tiga setengah tahun lamanya. Jembatan yang menghubungkan kampung Sidoyang dengan kampung sebelah tidak juga diperbaiki. Padahal jembatan itu adalah alternatif terdekat menuju sekolah, pasar, dan tempat-tempat vital lainnya. Memang, ada jalan lain menuju kampung sebelah hanya saja warga harus menempuh jarak sekitar tujuh belas kilometer untuk sampai kesana. Rasanya tidak mungkin, dengan sepeda warga menempuh jarak itu padahal tidak sampai dua ratus meter apabila melalui jembatan. Dan sebaliknya renovasi sana renovasi situ terjadi di rumah perangkat desa. Dengan kondisi yang seperti itu, banyak warga mengeluhkan kepada ketua RT, Pak Ridam dan segera ditindaklanjuti.
            “Permisi, Pak.”
            “Ya silakan masuk.”
            “Anu begini Pak, banyak warga yang protes masalah jembatan kan kalau dihitung-hitung dana yang terkumpul sudah cukup banyak apa tidak sebaiknya segera diperbaiki.” Pak Ridam menjelaskan dengan sopan. “Kalau tidak segera diperbaikki, warga mengancam akan protes.”
            “Baiklah besok saya akan datangkan alat-alat untuk memperbaiki jembatan itu.” Jawab si perangkat desa dengan sedikit gugup.
            Demikian waktu berlalu, alat-alat yang dijanjikan tidak kunjung datang. Kesabaran warga sudah hampir terkuras habis oleh janji-janji perangkat desa. Warga semakin geram dan berencana akan melakukan protes siang itu. Sekitar tiga puluh orang melakukan telah bersiap-siap dengan spanduk dengan berbagai tulisan, persis seperti yang hampir setiap hari dilakukan mahasiswa disekitar bundaran HI.
            “Tunggu tunggu apa-apaan ini!” spontan si perangkat desa mencoba menghentikan aksi protes warga.
            “Mana janjimu Pak! Kami sudah kenyang makan janji busuk itu! Perbaikan perbaikan? Omong kosong.”
            “e...e...e sabar dulu, emang akan diperbaiki besok tenanglah sekarang bubar!”
            “Sungguh cerdik bermain kongkalikong!” setelah itu warga membubarkan diri dengan rasa kecewa.
            Keesokan harinya ada kabar bahwa perangkat desa telah tewas bunuh diri dirumahnya. Sebelum bunuh diri, ia sempat menuliskan surat di secarik kertas yang pada intinya meminta maaf kepada warga atas pajak ayam. Uang itu kini sudah menyatu dengan rumah mewah dan mobil milik perangkat desa itu. Kewibawaan seseorang memang tidak sepenuhnya bisa mewakili perbuatannya.
            “Eh Pakde, dikubur dimana tuh mayat si koruptor?”
            “Di pemakaman lama kampung kita.”
            “Untung saja masih ada tanah yang mau menerimanya, paling sebentar lagi kuburannya hancur dan tulang-tulangnya akan hanyut terbawa banjir rutinan.”
            “Ngomong apa kamu ini.”
            

1 komentar: